predator

Mengapa kita perlu mengumpulkan kotoran predator?

Masyarakat adat memandang lingkungan secara holistik. Wilayah meliputi tanah, perairan, dan langit kita, serta tumbuhan dan hewan. Keyakinan spiritual kita berpusat pada bagaimana kita secara intrinsik terhubung dengan semua aspek Wilayah. Karena itu, budaya Bangsa Pertama telah mengamati, memahami, dan mewariskan pengetahuan ekologis dari generasi ke generasi.

Sejak penjajahan, orang-orang telah mencoba mengendalikan Ngurra (Tanah) daripada mengamati dan hidup berdampingan dengannya, yang tidak berhasil dan menyebabkan dampak buruk bagi manusia dan Ngurra. Sejak Invasi, masyarakat Pribumi telah dipindahkan dan dicegah untuk melakukan praktik perawatan lahan yang telah ada selama ribuan tahun. Ditambah lagi dengan masuknya spesies invasif yang telah membantai satwa liar kita dan mengganggu keseimbangan yang dijaga oleh masyarakat kita.

Predator asli seperti Binure (dingo gunung tua), Mirragang (dingo biasa), Murruging (quoll), Mulleum (elang), dan Budda-yak (burung hantu) sangat penting untuk keseimbangan ekosistem. Untuk melindungi satwa liar asli kita, diperlukan pemahaman lebih lanjut tentang dinamika predator dan mangsa di dunia baru ini. Proyek Predator di Wilayah Ini merayakan budaya kolaborasi, dengan menggabungkan Pengetahuan Budaya Tradisional dan Sains Barat untuk mempelajari lebih lanjut tentang predasi Goola (Koala) demi kesehatan Ngurra. Bekerjasama dengan UNSW, para pemegang pengetahuan Gundungurra dan Dharawal, kami menggunakan analisis DNA Lingkungan (eDNA) untuk mengidentifikasi spesies mangsa dalam kotoran predator di Dharawal Ngurra dan Gundungurra Ngurra.

Kisah Goola (Koala) Gundungurra dari Gunyunggalung (Masa Lalu yang Jauh) mengatakan bahwa Goola tidak terlihat dan biasanya tidak dimangsa oleh predator asli. Melalui teknologi baru, kita melihat konfirmasi pengetahuan Gundungurra Ngurra dan menentang pemahaman yang sudah ada sebelumnya tentang perilaku predator. eDNA adalah ilmu yang terus berkembang dan kita menggunakannya untuk mempelajari apa yang dimakan predator di wilayah tersebut. Melalui pengumpulan sampel organik, para peneliti dapat mencocokkan sekuens DNA antara sampel dan pustaka referensi untuk mengidentifikasi DNA spesies apa yang ada. Teknologi ini telah digunakan untuk menganalisis udara, tanah, dan air, tetapi kami menggunakannya pada sampel kotoran, atau yang dikenal juga sebagai sampel tinja.

Kami telah mengumpulkan 762 sampel kotoran predator di berbagai wilayah dengan populasi Goola yang sehat. Dalam sampel-sampel ini, kami telah mengidentifikasi 144 spesies mangsa yang berbeda, termasuk amfibi, burung, ikan, reptil, dan mamalia. Analisis kotoran sebelumnya melibatkan analisis rambut dan tulang yang seringkali tidak dapat mendeteksi hewan seperti ikan dan reptil, sehingga menimbulkan bias data. Melalui analisis eDNA, kami mampu mengurangi bias dan mencegah spesies yang sebelumnya tidak terdeteksi terabaikan sebagai mangsa.

Metode sebelumnya berfokus pada hal-hal yang dapat dilihat, dan metode baru ini membantu menunjukkan kepada kita apa yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. eDNA bahkan cukup sensitif untuk mengidentifikasi spesies mangsa dari makanan sebelumnya. Teknologi ini relatif baru dan bukan alat ajaib, kita masih perlu memeriksa hasilnya dengan pengetahuan adat setempat dan pengetahuan ekologis untuk mengkonfirmasi identifikasi spesies. Selain itu, penggunaan perangkap kamera di lokasi pengumpulan digunakan untuk lebih mendukung temuan tersebut. Pengetahuan tradisional tentang hewan apa yang seharusnya ada (atau pernah ada) di lanskap didukung oleh analisis eDNA meskipun beberapa hewan belum tercatat oleh ilmuwan barat di wilayah tersebut selama bertahun-tahun.

Pengetahuan ekologis Gundungurra didukung oleh hasil eDNA karena DNA Goola hanya ditemukan dalam dua kotoran rubah. Meskipun Mirragang (Dingo) dilaporkan sebagai ancaman terbesar bagi Goola, tidak ada predator asli yang mengandung DNA Koala dalam kotorannya. Sebaliknya, predator asli ditemukan mengonsumsi spesies mangsa yang umum dan menghormati peran mereka dalam menjaga keseimbangan di ngurra. Predator liar mengonsumsi sejumlah besar spesies asli dengan seleksi terhadap hewan berukuran kecil hingga sedang. Tidak ada kata dalam bahasa Gundungarra untuk predator liar seperti kucing dan rubah. Tidak adanya nama merupakan indikator bahwa mereka seharusnya tidak berada di sana.

Ilmu pengetahuan Barat dapat memiliki pandangan sempit ketika melihat ekosistem dan seringkali tidak memprioritaskan pemahaman holistik tentang Tanah Air. Hal ini terbukti ketika basis data genetik kehilangan kode genetik untuk banyak hewan yang ditemukan di Tanah Air kita. Hewan-hewan ini termasuk dyirri-dyir-ratch (willie wagtail), Gerarc (wattlebird), Gerregang (currawong), Goorangboon (grey butcherbird), Guurambuun (pied butcherbird), hewan-hewan yang memainkan peran penting dalam kisah kita dan dalam ekosistem kita. Penting untuk tidak hanya fokus pada hewan yang terancam punah tetapi juga pandangan holistik tentang ekosistem Tanah Air.

Peran dan keterlibatan masyarakat adat dalam proyek ini telah membantu memperbaiki kelalaian tersebut, memastikan hewan-hewan ini tidak dikecualikan dan keberadaan serta peran mereka di wilayah tersebut tercatat. Kesenjangan genetik juga sedang dikumpulkan ke dalam basis data referensi yang akan tersedia untuk dunia. Proyek Predator di Wilayah Adat juga memungkinkan masyarakat Aborigin setempat untuk mengakses area yang telah ditolak aksesnya selama lebih dari 70 tahun, tetapi sebelumnya telah dikelola selama puluhan ribu tahun. Akses ke tanah tradisional kami telah memungkinkan kami untuk terhubung dengan rumah kami dan berbagi pengetahuan budaya antar generasi.

Kita tahu bahwa ketika kita merawat Ngurra dan fokus pada kesehatan seluruh ekosistem, harmoni dan keseimbangan dapat terwujud. Proyek ini memprioritaskan berbagi pengetahuan antara budaya dan sains untuk mencapai hasil yang sama. Dengan mengenali dan menggunakan Pengetahuan Budaya Aborigin kuno dan metode ilmiah Barat yang modern, proyek ini memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan Tanah Air saat ini dan bagaimana menyembuhkan Tanah Air untuk masa depan kita bersama.

Kazan Brown adalah Pemilik Tradisional Gundungurra dan pendukung setia Tanah dan Budayanya. Ia memiliki ikatan leluhur dengan Lembah Burragorang dan Warragamba, dan merupakan keturunan Dundowra. Ia telah mempertahankan ikatan tersebut dan terus melestarikannya dengan mewariskan kisah-kisah mimpi lembahnya kepada anak-anaknya.

Kazan telah menggunakan pengetahuan yang diwariskan kepadanya oleh para Tetua untuk memperjuangkan kesehatan dan perlindungan Tanah Airnya, menjadi penentang yang kuat terhadap pembangunan bendungan Warragamba, dan bermitra dengan Strategi Koala NSW dan Pusat Ilmu Ekosistem UNSW, dalam penelitian tentang predasi koala dan memasukkan perspektif serta pengetahuan Masyarakat Adat ke dalam proyek-proyek penelitian Barat.

More From Author

Taiwan

Mіlіtеr Taiwan bеrlаtіh mеmukul mundur serangan Tіоngkоk dari laut

Mikroba

Apa yang Bisa Kita Pelajari Pentang Habitat Wombat Mikroba Dari Kotorannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments

No comments to show.